SAAT NONA IKA RAJIN MENGGAMBAR, ...

Posted by orange lover! , 2009/10/24 12.28

Awal mula peristiwa ini bisa terjadi adalah ketika saya menjadi seorang penggemar berat seorang vokalis band. Band bukan sembarang band. Band yang ini beda. Vokalis nya adalah seorang perempuan bernama Aprilia Apsari. Dia yang nggak secara langsung menjadikan saya rajin menggambar belakangan ini. Kalau ditanya apakah saya akrab dengannya? Wow, tentu saja tidak. Saya juga seorang perempuan yang turut mengidolakannya. Dia cantik. Setidaknya, saya juga tak kalah cantik (kata Ibu saya).

Saya sering sekali browsing mengenai dirinya dan karyanya dalam bidang seni lukis. Bagus sekali apalagi pada saat dia menggelar pameran tunggalnya yang berjudul ‘Rayuan Pulau Kelapa’. Saya jadi terinspirasi untuk menggambar ya walaupun saat itu saya tak hadir dalam acara tersebut. Sebenarnya sih saya juga nggak tahu apakah saya ini berbakat dalam bidang ini atau tidak, tapi apa salahnya toh jika kita mau mencoba, siapa tahu memang bisa. Saya pikir, semua orang bisa menggambar, tapi bagus tidaknya tergantung yang Maha Kuasa lah. Heheh... Buat apa ada pelajaran Kerajinan Tangan dan Kesenian di SD dulu kalau nggak di praktekkin lagi. Akhirnya, dengan segala usaha dan upaya, akhirnya saya nekat untuk menggambar. Ya, nekat. Walaupun ada kata nekat dibalik niat ini, tapi saya percaya dalam hati kalau saya pasti akan puas dengan hasil buatan sendiri.

Langkah pertama yang saya tempuh adalah menggambar perempuan dengan pewarna crayon. Cukup memuaskan walaupun nggak ada sama sekali detail atau raut wajah di gambar tersebut.

Coba lagi lah. Bukan Yunika Hawa Lestari namanya kalau pupus di tengah jalan. Lalu saya coba dengan media yang berbeda, kaos. Saya membeli tiga kaos sekaligus plus dua cat hitam acrylic. Saya buat sketsa pertama kali dengan pensil di atas kaos tersebut. Kaos pertama saya gambar seorang pria berambut keriting dengan bonus kumisnya, yang kedua seorang perempuan berambut panjang dan yang terakhir saya gambar sketsa berbentuk tulisan ‘ I HATE YOUR BAND’. Inspirasi tulisan ini berasal dari salah satu vokalis The Veronicas -- yang memakai tank top bertuliskan kata - kata tersebut walaupun hanya dengan spidol-saat malam penganugrahan Miss USA 2009. Namun, hanya salah satu kaos yang saya warnai yaitu kaos yang bilang bahwa saya benci band mu. Kenapa? Permasalahannya adalah saya belum punya ide bagaimana mewarnai yang baik, benar dan indah dipandang mata. Alhasil, kedua kaos itu tersimpan begitu saja di lemari pakaian.

Saat menunjukan pada Ayah hasil kerjaku, ekspresi nya berubah. Lalu bertanya, “ Tugas kuliah, Ka?”. Saya pun menjawab “Bukan.”
“Yaelah, kirain mah tugas kuliah, pake ribet - ribet segala beli kaos sama cat.” Ujarnya agak marah.

Aku pun hanya mendengus kesal. Pikir saya, memangnya saya kuliah jurusan apa kok ada tugas ngegambar baju gini. Suka nggak sinkron deh! Yang lebih parah lagi, saat Ayah saya bilang, “ Nggak usah deh ngecat - ngecat baju lagi di kaos. Sayang banget!” Apakah itu berarti gambar saya kurang bagus atau jelek?

Beberapa minggu setelah kejadian dilarang Ayah untuk menggambar di kaos lagi, akhirnya saya mencari media lain, Kayu. Ya, yang sekarang jadi korban untuk saya buat gambar - gambar adalah, lemari pakaian, laci meja, dan pintu. Jangan kaget dengan hal ini, entah kenapa rasa ini mendorong saya untuk mencoret - coret sesuatu, bosan dengan kertas yang akhirnya malah terbuang atau hilang. Pintu kamar bagian belakang pun telah menjadi alat untuk menyimpan gambar saya berupa seorang perempuan dengan tatapan agak sinis yang saya tuliskan juga dibawahnya, skeptikal. Saya nggak peduli walaupun gambarnya aneh, dan seperti waria ( kata adik saya ), saya tetap menghargai karya yang saya buat dengan berpeluh keringat.

Entah sampai kapan kegiatan ini akan saya lakukan, besok, minggu depan ataupun seterusnya karena saya senang banget menggerakkan tangan saya dan membiarkan pensil menari - nari tuk membuat garis demi garis. Memang sih, sekarang ini belum menggambar dengan ide dan imajinasi sendiri tapi mengikuti gambar yang telah ada yang saya dapatkan dari Mr. Google, tapi itu nggak menurunkan semangat saya yang masih belajar ini.
Tembok, apakah kau mau jadi korban berikutnya?

AKU KURUS???

Posted by orange lover! 12.27

 
Nggak banyak kata - kata untuk membalas komen dari para teman di kampus tentang perubahan bentuk tubuh saya ketika kami bertemu lagi setelah libur panjang pasca lebaran kemarin. Kaget juga sih pas mereka bilang setiap kali mereka berpapasan dengan saya di tangga atau di kantin kampus. “ Elo kurusan ya, Ka?” itulah kata - kata yang saya selalu dengar. Memang sih, nggak seperti orang - orang lainnya, ketika lebaran tiba, saya tidak terlalu bersemangat untuk melahap makanan - makanan yang tersedia pas lebaran kemarin seperti ketupat, opor ayam, kue - kue kering, basah, setengah kering setengah basah ataupun sirup - sirup warna - warni. Saya sih tergugah untuk memakannya, tapi cuma mencicipinya saja, enak ya syukur, kalau nggak enak ya nggak akan pernah mencobanya lagi. Jangankan minum, makan pun kalau belum lapar atau belum ada yang ingetin, ya belum mau makan. Aneh juga sih, malah terkesan manja, tapi entah mengapa, walaupun lebaran telah lewat harinya, kebiasaan ini pun masih terus dilakukan.

Sebelum lebaran, berat badan saya 50 - 52 kg untuk tinggi badan 165 cm. Tapi, sehabis lebaran, entah mengapa turun menjadi 47 - 48 kg. Ini cukup mengagetkan saya. Ya, apalagi saya sempat termenung sejenak saat seorang teman celetuk, ‘ Nggak proporsional badan lo!’. Saya nggak tahu apa yang dimaksud badan proporsional itu. Saya nggak peduli. Here I am! Sebab musabab saya menjadi seperti ini pun tak pernah tepat. Saya pernah menduga bahwa ini efek kurang makan, tapi ternyata salah besar karena walaupun saya jarang makan, tapi porsi makan saya luar biasa. Jangan - jangan ini karena diare yang pernah saya alami, yang secara tidak sengaja terbuang lah kotoran dan lemak yang ada di perut. Ah, mustahil, buktinya perut saya nggak rata kok, nggak seperti orang kurus biasanya. Aha! Tapi tunggu... nggak mungkin kan, saya cacingan??? Waduh, zaman modern gini apakah masih ada virus atau penyakit cacingan?? Haaddoohh... Poor me! ( Cacingan deh! ). Ah, tapi nggak mungkin, karena saya nggak pernah makan - makanan yang berbau atau berasa cacing - cacingan gitu ah. Nggak mungkin!

Banyak juga sih yang bilang kalau nggak pantes banget dengan badan saya yang kayak gini. Kurus, tinggi, langsing, but fortunately, dada saya nggak rata tuh! Yippiiee... Saya senang - senang aja (semoga kesenangan ini berlanjut) dengan badan saya yang kurus ini, soalnya, skinny jeans bermerk Jagger Mama yang umurnya jauh lebih tua daripada saya, sukses saya pakai tanpa ada rasa sesak menyesak. Beauty is pain lah kalau orang bilang. Do everything to be beautiful. Sadis banget sih kedengerannya tapi memang these words really tortured my mind. Moga - moga sih saya nggak kayak gitu. Cuma gara - gara kurus terus saya dengan bangga nya mengasumsikan bahwa saya cantik. What a big No No!. Jerawat aja kadang - kadang masih suka timbul dan tenggelam. Gimana mau dibilang cantik, kalau masih garuk - garuk kepala depan umum. Hehehe...

Saya pernah bertanya pada seorang teman, anggap saja namanya Anggrek, “ Emang bener ya, gue kurusan? Kok pada bilang gitu sih? Menurut lo gimana?” dan Anggrek pun menjawab, “ Ah, masa sih, biasa aja kayaknya, tapi pipi lo memang terlihat agak tirus, dan tangan lo pun terlihat mengecil.”

“ Itu berarti gue kurusan, dodol!”. Si Anggrek pun cengengesan. Pacar saya ( sekarang mantan )pernah marah - marah karena masalah ini. Setiap dia tahu kalau saya belum makan, langsung saja saya menerima sms berisikan kalimat perintah dengan huruf kapital. ‘JGN LUPA MKAN!! JGN LP MKN!!’ Baik sekali dia selalu mengingatkan, tapi tetap saja, dasar dablek, saya baru makan dua jam setelah menerima sms tersebut.

Emang dasar ya manusia, nggak pernah puas dengan apa yang dia udah dapetin dalam hidupnya. Contohnya saya, dulu pas lagi gemuk - gemuknya, pengen banget kurus dengan sekuat tenaga dan pengorbanan harus mencapai target agar kurus, tapi sekarang, udah kurus, malah ribet sendiri, pengen gemuk lagi lah, apa lah. Prrettt..!
Whatever! Kadang ngerasa benci banget apa kata orang yang bisanya cuma ngomentarin doang. Entah kenapa saya dengerin, kalau saya memang merasa nyaman, ya sudah. Biarkan badan saya ini maunya apa. Biarkanlah dia berkreatifitas. Kurus? So What?.
 

Posted by orange lover! , 2009/10/07 20.24

K U M A T I T A N P A M U! *

Ketika Tuhan belum memanggilku untuk mati, aku pun telah merasa nyawaku pun menghilang. Derita hati yang kian usang untuk di ceritakan, kini kembali menyeru di segala penjuru hidupku. Sebelumnya, cinta yang benar benar ku ketahui sebagai dongeng putri cantik untuk belahan jiwanya hanya menjadi kisah lama pengiring mimpi buruk. Dulu aku pun menggila akan rayu rayu dari para Adam yang seperti baru melihat Hawa yang bangkit, tapi semua itu hanya sekejap, seperti buah kalengan dengan manis buatan dan bahan pengawet tinggi yang sewaktu – waktu membusuk dan di buang begitu saja. Mungkin ini salahku atau salah waktu yang mengikis tebalnya rasa kasih padamu. Aku memang seorang perempuan yang tak bisa mengingat kapan pertama kali kumbang mengampiri mawar yang tinggal menunggu waktu untuk merekah. Hidup ini memang tak ada yang indah, semua rasa senang hanya sekelibatan nafsu yang menyeruak diantara kerumunan nestapa. Kini kau pun bertanya kemana hati dan pandanganku. Aku pun menjawab sampai saat ini masih mengarah padamu walau bisa dibilang melirik kearahmu.

Perempuan lara yang kau bilang telah membagi hati ini semakin tertekan ketika kata – katamu memojokkannya. Ku tak pernah berpaling tapi entah mengapa rasa ini jauh berlari dari mu. Jangan kau asumsikan bahwa ada orang ketiga yang mengambil alih perasaanku tapi marilah kita berkaca bersama apa yang telah kita lakukan selama ini. Batinku membiru saat tak simpati yang terlintas di hatimu tapi apakah kau sadar kini bahwa kau berubah antipati di belakangku? Aku menunggu asa ini cerah dan berwujud ketika aku meminta Tuhan untuk mengabulkannya tapi sayangnya sang Maha pemberi cinta belum memberiku petunjuk apa – apa. Aku pasrah dengan semua ini, sayang. Jika kita harus saling mengembalikan hati adalah keputusan yang tepat dan melegakan, ku terima dengan lapang dada. Ku hanya menunggu waktu dimana ku bisa duduk manis sendiri lalu benar – benar mati.

01 Oktober 2009

14 : 20


* ( semoga saja tidak )

- Kegiatan Dibalik Debate Competition

Posted by orange lover! , 2009/07/28 12.39

Berdebat adalah suatu kegiatan yang mengeluarkan pendapat kita tentang suatu hal dalam konteks apakah kita setuju tentang apa yang kita utarakan tentang hal itu atau tidak. Contohnya, Apakah Anda setuju jika saya ini adalah wanita cantik dan menawan? Hehehe.. ( iya tahu deh nggak kreatif banget pertanyaanya.) Nah, cobalah utarakan apa yang ada dalam pikiran Anda tentang pertanyaan diatas. Mengapa Anda bisa tidak setuju kalau saya ini disebut wanita cantik dan mengapa Anda setuju dengan pernyataan tersebut. Sudah.. Sudah.. Nggak usah terlalu panjang berdebatnya. Nggak usah berantem deh..ya tahu deh saya cantik. Hayo.. tadi yang setuju siapa? Terima Kasih.

Mengerti? Heheheh.. Mudah – mudahan Anda lebih pintar dari saya dan mengerti apa yang Anda ketahui tentang debat karena sebenarnya I’m not good in debating. Saya nggak terlalu mahir berbicara. Saya ini orangnya kalem kok ( kalau lagi sendirian). Beneran deh, saya lebih baik memilih untuk menulis daripada berbicara banyak di depan umum dengan orang – orang yang tak menarik bibirnya kesamping dan menatap saya dengan tatapan menekan. Well, that’s the most annoying moment in my life! Saya lebih suka berhadapan dengan kertas yang selalu bersedia dan setia untuk saya belai dengan bolpoint dan computer yang setia menerangi mata sampai larut malam.

In this wastetime story, saya mau menghantarkan beberapa kata tentang kegiatan saya saat saya harus mengikuti lomba debat sebagai Adjudicator (juri) dari tanggal 25 – 27 Mei 2009 di STBA YAPARI Bandung. This is my second experience in debate competition but I don’t know why I was still jumpy to face the competition. Gebleg banget dah ah, kenapa saya bisa nggak bisa relax dengan hal seperti ini. Saya mencoba untuk niat dan belajar dari semua ini dan membuat saya bisa membujuk pikiran saya untuk menenangkan diri. Saya semangat untuk melakukan semuanya dengan baik dan percaya bahwa saya bisa menghadapi ini, tapi saat saya sudah berada di dalam acara itu, I couldn’t deliver any words. Seakan saya menciut.

Hari pertama keberangkatan dari Bekasi menuju Bandung sangat sunyi tak ada kata yang biasanya terdengar membisingkan telinga. Sayapun tak membuka mulut sama sekali hanya berbicara jika ada yang bertanya saja. Haha.. Sok sombong banget ya! Whatever. Akhirnya saya memutuskan untuk mendengarkan lagu – lagu dari Club 8 dan white shoes and the couples company lewat MP3 Player. Sesampainya di Bandung dan check in di Hotel Nalendra, langsung kekamar no 423 dan merebahkan diri sesaat. Saatnya ke venue untuk opening ceremony tapi saya malah harus Adjudicating Seminar. Ngomong Bahasa Inggris terus. Huufpp.. Sumpah deh entah kenapa kepala saya langsung pening banget. Hooaahh.. Ngantuk pula. Lalu dilanjutkan dengan penilaian verbal tentang debate exhibition dan saya harus mengomentari tentang debate itu sampai malam pula. Pukul tujuh malam saya dengan yang lainnya ( Ms. Maria, Mujib dan Dedy) balik lagi ke hotel yang letaknya tak begitu jauh dari STBA YAPARI. Hawa di luar ternyata lebih dingin dari yang saya rasakan di dalam venue.

“ Ya ampun, Miss, dingin banget!” ujar saya sambil mengosok telapak tangan.

“ Ya iyalah Ka, kita kan lagi di Bandung. Kamu gimana sih?”

“ Oh, iya ya. Aku lupa.”

Hari kedua, inilah saatnya untuk berperang pada pukul 08.00 pagi. Debaters yang akan bersilat lidah kali ini adalah Mujibur Rohman dan Dedy Puguh dan saya sebagai Trainee Adjudicator (juri yang dilatih). Well, this is the worse moment saat harus mendengarkan para debater untuk berbicara dan mengutarakan argument mereka. Saat memasuki ruang debat, saya merasa sedikit gugup dengan keadaan yang begitu asing bagi saya. Saya nggak kenal siapa – siapa. Sampai ronde ke tiga pukul 13.00 saya baru merasakan sedikit relax karena Chief Adjudicator (kepala juri ) nya ganteng banget hehehe. Namanya Luthfi. Wajahnya yang feminim tapi charming bikin saya punya niat untuk menghampirinya lalu berkata, “ Nomer handphone nya dong!” Hehehe.

Pada saat mau makan siang, saya duduk sendiri di kursi panjang dekat tempat pengambilan kotak makan siang. Tiba – tiba ada seseorang menghampiri saya lalu dia bertanya, “ sendiri aja? “. Saya yang ditanya seperti itu tak menjawab karena malu – malu. Kayak zaman siti nurbaya aja. Saya hanya melempar senyum untuk nya sebagai jawaban. Namanya Yongki, mahasiswa Politeknik Kelapa Sawit Bekasi. Baru denger aja ada kampus nama pepohonan gitu. Heheh.. Nanti saya bikin deh Politeknik Kelapa Kopyor. ( Garing!) Tiga menit sesi melakukan sesi Tanya jawab, dia pamit untuk menuju gerombolan teman – temannya. Saya seperti pernah melihatnya dan familiar di pikiran saya. Saya pernah liat di TV. Ternyata pria dengan rambut Mohawk itu mirip sama Bondan Prakoso si penyanyi ‘Lumba – Lumba’. Swear deh!

Saat yang ditunggu – tunggu telah tiba yaitu pengumuman 16 besar debaters yang akan masuk ke quarter final dan Adjudicator terbaik. See? I’m not good enough to be adjudicator. Saya saja dapat peringkat ke 36 dari 45 juri yang ikut serta. Maaf ya membuat kalian kecewa padaku. Tapi untungnya, debaters kita dapat peringkat 27 dari dari 32 peserta team debat. Ada sedikit kemajuan pada debaters baru kita. Jadi, intinya kita nggak bisa melanjutkan pertarungan dan harus pulang lebih cepat keesokan harinya. Melihat Mujib dan Dedy yang terlihat agak stress, terguncang dan pucat pasi, akhirnya saya dan Miss Maria mengajaknya ke Cihampelas walk untuk sekedar jalan – jalan, cuci mata, cuci muka dan cuci kaki. Eh salah, ya sambil belanja – belanja lah melihat sekeliling yang baru untuk menghilangkan kekecewaan dan nestapa.

Malamnya, tepat jam setengah tujuh malam, saya dan yang lainnya beranjak dari hotel menuju Cihampelas Walk. Kami menumpang angkot jurusan Kalapa – Ledeng. Ternyata deket juga ya, nggak sampe 10 menit kami sudah sampai disana. Saya berusaha mencari baju tapi tak ada satupun yang menarik hati untuk saya beli. Akhirnya saya beli sebuah kaos di salah satu factory outlet yang bernama Aladdin karena bacaan di bagian depan kaos tersebut begitu unik.

‘Someone who love me very much went to Bandung and got me this T-shirt ‘

Saatnya pulang untuk kembali ke hotel karena perut sudah keroncongan. Kami mencari makan ( seperti ayam ya?) di sekitar Jalan Cihampelas samping restaurant cepat saji Mc Donalds. Disana terdapat warung bebek dan ayam goreng, indomie rebus, cafĂ© dari tahun 1999, nasi goreng, dan bubur ayam. Sederet makanan enak – enak seperti itu alangkah ironisnya tidak menggiurkan kami untuk bertandang ke tempat makan itu. Setelah berdiskusi alot membahas, -dimanakah seharusnya kita makan malam karena perut sudah keroncongan dari siang-, kita beranjak dari pusat factory outlet tersebut menuju hotel dimana kita menginap. Yah, seenggaknya sepanjang perjalanan ada tempat makan yang menggugah selera.

Saya baru tahu kalau di sepanjang jalan Cihampelas itu cuma ada satu jalur kendaraan. Jadi, saya pulang ke hotel dengan berjalan kaki beramai – ramai seperti orang karnaval. Betapa melelahkannya, sudah jatuh tertimpa tangga, sudah lapar berjalan kaki pula. Badan juga udah lowbatt. Mata kami tak lepas dari tempat makan sepanjang jalan. Setidaknya, we judge a book by its cover lah, kalu tempatnya enak, mudah – mudahan rasa makanannya enak juga. Heheh.. Tapi, tak disangka tak dinyana dan tak terduga, saya bertemu dengan si Mr. Lumba – Lumba wanna be di depan sebuah factory outlet yang juga menampilkan dan mempertunjukkan hewan – hewan aneh dan langka.

“ Eh ketemu lagi…!!” ujar saya

“ Hai..!” balasnya dengan senyum yang tersungging. Lalu dia mengajak saya untuk bersalaman. Saya pun tak mengerti maksud dibalik salaman tersebut. Ikutin aja deh. Lalu saya pergi meninggalkannya ,yang ingin menuju factory outlet tersebut, dan melanjutkan perjalanan dan fokus dalam makan malam.

“ Tuh ada tukang nasi goreng! “ ujar Deddy sambil mengarahkan telunjukkan ke sebuah gerobak penjual nasi goreng di pinggir jalan.

“ Ah, kayaknya nggak enak tuh!” jawab saya dengan aksen yang kurang bersemangat.

“Emang ampe sana ada tukang makanan lagi?”

“ Ada!”

Sampai rumah sakit Advent pun kami belum merasa tergugah dengan kios – kios makanan yang berderet di pinggir jalan. Dengan aneka makanan yang terekam lewat mata saya, semua itu membuat saya kenyang. Tulisan – tulisan aneka makanan yang terjual di spanduk pedagang makanan juga membuat saya ragu untuk makan apa, ada batagor kuah, nasi goreng, roti bakar, pecel lele, ayam goreng, brownies kukus dan kwetiau. Aha! Kwetiau... Saya jadi semangat untuk makan malan lagi dan spontan perut saya pun berteriak lebih kencang dari sebelumnya. Tepat di depan wartel ( yang saya lupa apa namanya ) dan di seberang plaza yang di rekonstruksi, kami makan di sana. Saya langsung memesan sepiring kwetiau setengah pedas, “ Pakai bakso ya, bang!” dan yag lainnya memesan nasi goreng.

“ Kenapa nggak dari tadi aja sih makannya. Perasaan dari tadi banyak banget tukang nasi goreng!” kata Deddy.

Saya hanya cengengesan.

Setibanya di hotel sepulang dari Cihampelas Walk, kami langsung menuju kamar masing – masing. Kaki sudah letih karena berjalan berkilo – kilo meter jauhnya ( berlebihan ). Sebelum saya memasuki kamar, Deddy memanggil saya dengan agak lirih.

“ Kenapa, cing?”

“ Ka, kayaknya foto – foto di digicamnya ke hapus semua deh!”

“ APPPPAAAAAA?????!!!! EMANG ELO APAAAIIINNN...???” geram saya.

“ ya, kan gue mau belajar make ni digicam! Eh, gue tadi lupa mencet apa, eh malah kehapus semua photonya..! Sorry ya...” jelasnya sambil menujukkan muka yang bersalah.

Sambil garuk – garuk kepala yang sebenarnya nggak begitu gatal ( hanya ekspresi kekesalan ), saya memencet – mencet tombol yang ada di sebelah layar kamera tersebut untuk mencari cara siapa tahu foto – foto yang hilang tadi masih ada atau malah tersimpan di dalam folder lain atau seenggaknya di dalam sebuah digicam ada recycle bin nya seperti di komputer dan bisa me restore files yang telah terhapus. Tapi ternyata itu hanya harapan saya saja.

“Emang disitu ada foto apa aja?”

“ banyak!” . Ya, banyak sekali. Kamera itu telah menyimpan berbagai gambar dari beberapa sudut dan angle pada saat para debater sedang berdebat, gambar saya di restaurant dan sedang melakukan penjurian, gambar kami berempat, foto saya dengan Miss Maria dengan lukisan di tembok menuju Cihampelas Walk, foto Mujib dan Deddy sedang stress seusai berdebat, juga foto saya dan Miss Maria bersama Monalisa ( ya, sebuah puzzle besar yang tersusun menjadi sebuah gambar Monalisa yang dipajang di lobby hotel dan kami bergaya di sebuah sofa yang berada di bawahnya), dan masih banyak lagi.

Pada hari setelah itu, saatnya kami pulang dan check out dari hotel. Kami sudah check out dari hotel pukul 7 pagi dan menunggu jemputan dari kampus datang. Daripada bosan karena melakukan kegiatan yang nggak penting seperti menunggu, saya dan Miss Maria memutuskan untuk internetan di dekat parkir hotel. Disana kami Facebook an dan memeriksa update website jurusan sastra Inggris kami. Mumpung internetan gratis, hehehe.. Sedangkan Deddy dan Mujib lebih memilih mengobrol dengan teman teman barunya dari universitas lain. Mereka sungguh terlihat akrab. Karena belum sarapan pagi, saya memutuskan untuk ke restaurant di hotel tersebut. Pertamanya sih cuma makan buah dan kopi susu, eh ngeliat ada yang makan omelette, saya langsung memesannya kepada si Mbak pelayan restaurant. Wow... Nyossmakk sekali... Nikme’! Telur goreng setengah matang dengan campuran sosis, bawang bombay dan tomat tersebut begitu cepat rasanya tak tersisa diatas piring karena saya tak sabar untuk terus mengunyah dan merasakan omelette tanpa campuran paprika hijau itu. Miss Maria aja sampai nggak kebagian.

Saatnya pulang dan kembali pada rutinitas di Bekasi. Saya merelakan semua yang telah yang saya sukai dari Bandung itu. Pemandangannya, hotelnya, lomba debatnya, jalan kakinya, sampai saya pun tak rela mengucapkan selamat tinggal kepada omelette nan enak itu. Hiks..! Setumpuk tugas dan kepadatan jadwal telah mengucapkan selamat datang. Sayonara, Bandung! Sampai berjumpa lagi! Dan hadirkan berjuta kenangan dan cerita yang tak terlupakan lagi.

Cheers! (^.^)w

Nona Ika menginjak umur dua puluh

Posted by orange lover! , 2009/06/16 19.26

Minggu 14 Juni lalu adalah hari perayaan akan bertambahnya umur saya,ya, akan karena sebenarnya saya lahir pada tanggal 15 Juni 1989. Atas diskusi yang sangat alot dengan orang tua akhirnya kami memutuskan untuk merayakan pertambahan umur saya sehari sebelumnya karena tanggal 15 itu Senin dan saya pikir pula jika saya merayakan ultah saya pada hari Senin, kemungkinan mereka tidak akan datang untuk menghadiri pesta saya. Kepadatan jadwal menjebak saya untuk menghadapi awal umur saya yang mulai berkepala dua ini agar lebih mempersiapkan diri pada ucapan – ucapan selamat dari kawan, kerabat dan saudara lebih cepat dari biasanya. Kalau kata Rezqy, teman SMA, ulang tahun saya ini seperti hari Lebaran karena dirayakan dua hari. Minggu dan Senin. Lebih kepada bingung karena kebanyakan teman yang saya undang bertanya – tanya kapan sebenarnya tanggal lahir saya. Lalu saat saya jawab tanggal lahir saya, mereka lantas bertanya lagi dengan suara yang meninggi, “ Laaahh.. Kok dirayainnya tanggal 14???” Lalu saya hanya menjawab, “ Wah, gue nggak nemuin hari yang pas lagi, cing!”


Lain halnya dengan Dimas, teman les bahasa inggris saya dulu, dia malah kerumah saya tanggal 13 Juni. Dasar geblek si blek! Udah item, nggak bisa baca kalender lagi. Hahaha.. Piss blek! Dengan santai nya dia bertanya pada saat kami berdampingan duduk di depan rumah saya dengan tas ransel besar, sweater biru yang warnanya sudah agak memudar, jeans, sneaker hitam putihnya, dan rambut keritingnya yang berantakan tak tersentuh sisir itu sambil membakar sebatang rokok Malboronya, “ Ka, elo jadi nggak sih ulang tahunnya? Kok sepi?”. Lalu dengan sabar, saya menjelaskan padanya kalau hari itu adalah hari Sabtu dan perayaannya akan dilaksanakan keesokan harinya dan yang diberi penjelasan malah cengar – cengir!


Hal pertama yang membuat teman – teman saya permasalahkan dalam menghadiri pesta saya adalah dress code nya. Saya suka warna orange jadi semua teman harus memakai baju orange. Kalau nggak punya, nggak apa – apa sih tapi seenggaknya warna kuning juga saya suka, ya kalau nggak punya juga, kan ada mall tempat menjual segala macam model baju berwarna orange atau kuning. Heheh.. Banyak teman yang berkomentar tentang dress code yang katanya too bright kalau dipakai siang hari.


Ina : “ Ka, gue nggak punya baju orange. Ada juga seragam olahraga gue

dulu pas SMA.

Saya : Ya udah gak apa – apa. Pakai aja. Sekalian aja elu jogging dari rumah lu di

Purwakarta sampai rumah gue.

Ina : Wah, keren ide lo ,Ka!



Rohim : “Iya, Ka, nanti gue pake baju orange. Si Malik tuh nggak mau.

Katanya mau pake baju hitam aja. Biar jadi pusat perhatian. Pengen gue jedotin aja.”

Saya : Haha... Gue ikutan ngejedotin boleh ya?!



Saya : “Dimas kok malah pake baju batik? (ini acara ultah, bukan hajatan)”

Dimas : “Gue nggak punya baju orange.”



Saya : “Pupu kok malah pakai baju kuning sih?”

Pupu : “Cari baju orange susah banget, sayang!”

Saya : (Cemberut)


Well, sebenarnya saya nggak tahu apa perbedaan umur dua puluh dengan umur – umur lainnya. Sampai saat ini saya belum merasakannya. Saya hanya mendengar ledekan teman – teman kalo umur dua puluh itu menandakan sudah tua, nggak remaja lagi dan waktunya untuk dewasa. Untuk apa pusing – pusing mempermasalahkan umur, orang lain yang nggak kenal saya, pasti akan menebak kalau saya ini masih SMA kok. Umur bukan patokan, bung! Ya, bukan juga sesuatu yang menjadi tolak ukur seseorang untuk bertindak dewasa. Saya masih bersikap kekanak-kanakan dan impulsive. Semoga waktu dan alam bisa mengajari saya untuk lebih bersikap dewasa dalam menjalani hidup kedepan.


Kalau anak band mengucapkan terima kasihnya waktu bikin album baru, saya nggak mau ketinggalan ah bikin ucapan terima kasih saya sebagai wujud rasa syukur aja. Hehehe..


Terima kasih tak lupa saya haturkan kepada Allah SWT yang telah menciptakan manusia seperti saya dan telah mengizinkan saya untuk mencicipi hidup sampai umur yang kedua puluh ini. Senang sekali merasakan masa ABG dan remaja yang tak akan terlupakan sepanjang hayat. Kepada Ayah yang memberi surat izin mengadakan acara ulang tahun di rumah dan wanita paling mulia yang telah sabar mengandung anaknya yang jelita ini sampai 9 bulan. Oh.. What great parents yang merawat dan membesarkan saya dengan sekuat tenaga sampai di umur dua puluh ini.Mommy yang telah memasak sup kimlo terenak di jagad raya. Daddy yang mencium anaknya setahun sekali, kalau nggak Lebaran, ya ulang tahun seperti ini dan mendoakan anaknya sepenuh hati, jiwa dan raga. Terima kasih kepada teman – teman yang sudah datang dan yang sudah memberikan selamat ulang tahun via Facebook, via SMS, dan via telepon. Terima kasih atas perhatiannya dan terutama kadonya. Hahaha.. Saya sangat terharu atas segala yang kalian berikan untuk saya sampai umur ke 20 ini. Sampai bertemu insya Allah di umur selanjutnya.















( 1. Mommy, keyboard baru memang benar – benar saya perlukan. Tahu aja, deh!.

2. Pupu, masih sabar nunggu enam tahun lagi, kan?

3. Tante Rini, ide yang bagus untuk mempersilahkanku memilih sendiri kado untukku. Agak aneh

tapi menyenangkan.

4. Tulus, semoga engkau memang tulus untuk memberikanku kaos Endorse itu. Heheh..

5. Dimas, applause buat elo deh karena cuma lo yang ngasih saya buku sastra. Asmaradana karya

Goenawan Mohamad.

6. Seorang teman yang memberikanku dress orange tua, engkau tahu apa yang selalu aku lihat saat

window shopping di department store.:-)

7. Seorang teman yang memberikanku sendal orange muda, Wow, engkau telah membuatku sadar,

betapa ngejrengnya jika warna orange menyala itu dikenakan di kaki. Pasti aku akan cepat ditemukan jika hilang di hutan belantara nan gelap gulita. Berkat sendal orange. Hahha..

8. Dan yang lainnya yang telah menyisihkan uangnya untuk membelikan sebuah kado yang

berguna untuk saya.)

TERIMA KASIH.

DARI INDONESIA KE JEPANG

Posted by orange lover! , 2009/05/13 19.55




Tanggal 19 April 2009 lalu, bersama Ibu dan Adik, saya pergi ke JCC Senayan untuk melihat pameran batik. Saya mengunjungi pameran batik itu karena mau bertemu tante saya yang membuka stand batik disana. Bisa lima tahun sekali ketemu dengan beliau. Kita tinggal di beda kota. Saya tinggal di Bekasi, dia tinggal di Jogja. Dari seminggu sebelumnya, saya sudah berencana untuk membeli batik. Pengen banget punya batik yang kalau dipakai tuh keren, remaja banget, bukannya malah mengundang orang yang melihat penampilan kita kontan bertanya, “ Mau kondangan dimana, Mbak? “ Itu sangat menyebal kan buat saya.


Tadinya, saya mau mengendarai motor matic ke Senayan tapi Ayah melarangnya. Dia hanya bilang kalau Senayan itu terlalu jauh untuk saya tempuh dengan mengendarai motor. Itu nggak masuk akal. Kenapa waktu itu saya boleh ke Depok tapi ke Senayan malah dilarang? Benar – benar tidak manusiawi.


Awal rencana kami mau naik busway dari UKI dengan menumpang bis 9b dari Bekasi. Ketika sampai UKI, Ibu saya punya pikiran lain, kami naik P6 jurusan Kp. Rambutan – Grogol lalu turun tepat di JCC. Kami menyusuri jalan menuju tempat JCC tersebut tepatnya di Hall A. Sempat nanya – nanya juga sih kepada orang – orang. Waktu itu nanya tukang jual air mineral dimana jalan masuknya, dia menjawab, “ JCC tinggal lurus aja, bu! Kalau haus beli disini airnya.”


Akhirnya, kami menemukan JCC Balai Sidang Jakarta tempat dimana pameran batik itu di selenggarakan. Setelah membayar tiket, kami memasuki ruang pameran. Wow, batik semua. Hehehe... ( yaiyalah.. kan memang kamu sedang berada dipameran batik, ika nan cantik! Hhahah... ) Saya melihat baju batik yang mencuri perhatian semua orang. Indah sekali. Saya nggak pernah melihat baju – baju rancangan para designer dalam merancang kain batik menjadi sebuah gaun yang menakjubkan. They are amazing. Bagian depan nya saja sudah eye-catchy gini apalagi bagian dalamnya ya...


Ketika sampai di pameran batik, tampak keadaan agak remang – remang. Hanya stand nya saja yang sengaja dibuat terang. Banyak ibu dan bapak sedang melihat – lihat batik yang dijual atau hanya di pajang saja. Saya mencari stand tante saya yang katanya di blok nomor 71. Seiring saya berjalan menuju stand tante, batik – batik manis nan etnik menggugah mata saya. Indah banget. Ngiler boo..!!


“ Ehh.. Ika kapan nyampe?” ujar tante Rini saat saya menemukan stand batiknya. Saya langsung memilih – milih batik yang dipajang di depang stand. Lucu – lucu banget model sack dress nya. “ Bagus tuh, Ka!” lanjut tante saat menemukan saya memilah – milah batik. Saya hanya tersenyum lalu menghampiri Ibu saya.


“ Bu, aku boleh nggak beli batik itu?” tanya saya sambil menunjuk batik yang saya idamkan. Ibu mengambil baju itu lalu melihat harganya. Rp 428.000. Wow... Nafsu saya hilang seketika. Saya menggerutu karena harganya yang menjulang. “ Tante, batik nya mahal banget sih? “ protes saya sambil mengembalikan batik itu ke tangan penjualnya.


“ Ika nggak kenal batik sih. Lihat deh gambarnya. Ini batik tulis!” jawabnya.

Saya hanya manyun ke baju tersebut. Gagal deh beli batik. Saya merasa berat hati membeli batik seharga gaji saya sebulan. Damn! Kalian sudah tahu belum? menurut penjelasan tante saya yang berambut pendek itu, cara membedakan batik tulis dengan batik cetak itu dari gambarnya. Kalo batik tulis itu gambar goresan batiknya itu nggak lurus, pasti acak – acakkan, sebaliknya batik cetak itu pasti bagus dan rapih. Hmm.. saya sekarang tahu. Berarti selama ini, saya selalu beli batik cetakan ya? Hehehe...


“ Udah lah Ka. Nanti kita beli di tanah abang aja!” usul Ibu.

“ aku mau dong mbak diajakin ke tanah abang.” Pinta tante ku itu.

“ Ya nanti kapan – kapan kalau kamu ke Jakarta nya lama.” Ujar Ibu.


Selain pameran batik, ternyata ada talk show tentang batik Sumatera. Panggung talk show itu tepat di belakang stand tante Rini. Saya menuju ke tempat acara bincang – bincang itu. Saat melihat presenter nya, saya merasa mengenalnya. Dia sering tampil di TV membawakan acara talk show. Andy F Noya. Kenal nggak? Punya TV nggak di rumah? Hahaha....


Saya kaget setengah mati saat yang memperkenalkan dan menjelaskan tentang batik itu adalah orang bule. Tepatnya orang Belanda. Orang asing yang memakai kemeja batik itu menjelaskan seluk beluk batik Sumatera dengan aksen Belanda yang dicampur bahasa Indonesia. Lucu banget. Tapi, ketika saya melihat sekeliling, sungguh ironis ketika orang asing menjelaskan tentang batik dan meneliti perkembangannya, orang Indonesia sendiri yang memiliki salah satu hasil budaya tersebut hanya menonton dan mendengarkan. Dunia telah terbalik, kawan – kawan! Itu sangat memalukan bagi saya.


“ Bu, lihat – lihat lagi yuk! “ ajak saya lalu meraih tangan adik saya agar ikut bersama kami. Tenunan – tenunan kain yang mengagumkan terlihat sangat menyegarkan mata. Saya mengamati setiap rajutan – rajutan yang terdapat pada kain. Sok banget ya, kayak saya ngerti aja!. Saya menulusuri instalasi – intalasi pameran sampai keujung lorong dan menemukan pintu lain dan ruangan yang lebih terang karena terdapat kaca – kaca besar yang mempersilahkan matahari masuk ke dalam ruangan. Ketika saya meginjakkan kaki ke ruangan ber- AC itu, saya kaget setengah mati. Saya celingak – celinguk mencari sesuatu yang saya kira berbeda dan aneh. Dimana saya? Saya melihat orang – orang disini bermata sipit semua. Ada sekelompok remaja yang berpakaian aneh, ribet dan berlebihan. Terdapat panggung yang dihiasi bunga sakura. Lalu saya mendengar informasi dari pengeras suara ‘ BAGI PESERTA COSPLAY YANG INGIN DI FOTO, SILAHKAN KE TEMPAT FOTO. GRATIS! ‘ Oohh... ini tempat cosplay toh. Pantas saja tadi saya melihat ada Naruto disini. Hehehe... Banyak orang yang mau mengambil gambar bersama para peserta cosplay. Begitu pun saya. Melihat seorang peserta yang lagi nganggur, saya ajak aja photo. Tapi saya nggak tau di itu pake costum apa. Cuma bawa pistol, tank top, celana panjang, dan memakai wig pirang.


“ Itu siapa, Ka? “ tanya Ibu saat selesai mengambil gambar saya dan cewek peserta cosplay tersebut.

“ Nggak tau! Hehe.. “

“ Ngapain foto sama dia? Putih banget tuh kulitnya. Pemain sinetron ya Ka?”

“ Pemain sinetron? Semua yang disini itu karakter animasi jepang, Bu! Mana ada pemain sinetron. Malahan kalau ada pemain sinetron, nggak ada yang minta photo!” jawab saya asal.


Sampai sekarang pun saya nggak tau dia siapa. Hal – hal yang berbau Jepang bukan salah satu konsentrasi saya. Mungkin kalau kemarin ada yang pakai kostum Shakespeare saya pasti kenal, lalu saya ajak ngobrol, bertukar pikiran dan saya ajak dia ke rumah saya. Loh.. loh..? Saya merasa asing sekali di lomba kostum itu. Buta sama sekali sama karakter komik karena saya jarang baca komik. Lebih baik saya kembali ke Indonesia dan lebih memperhatikan batik. Saya sebel banget kalau pergi ajak adik saya, kalau kelamaan, pasti dia merengek – rengek minta pulang. Nggak nendang banget liat pameran batiknya kan sayang udah bayar tiket. Baru masuk udah keluar lagi. Benci banget! Dia menutupi sebagian background baju – baju batik ,yang saya ingin foto, dengan telapak tangannya.


Akhirnya saya pulang setelah berpamitan dengan tante dan menuju standnya lagi. Setelah itu melewati acara talk show yang belum kelar itu. Tapi tunggu, ada seseorag yang mencuri mata saya. Oscar Lawalata. Wow... ! Pengen foto sama dia.. Keren banget dan sungguh cantik. Tapi dia keburu pergi. Huffpp.. Nyesel banget. Ternyata dia punya stand juga di pameran batik ini. Karena adik saya yang terus menerus merengek minta pulang, akhirnya, saya tinggalkan semua keinginan saya untuk mengabdikan gambar bersamanya. Saat pulang, rasa penyesalan saya dibayar dengan rasa bahagia karena saya naik bis china yang selama ini saya dambakan untuk menaikinya. Yeashh...!!!

AKU MATI KERACUNAN

Posted by orange lover! 19.20

Racun itu telah mengintaiku
Rasa pahit itu melemaskanku
Rasa manis yang terkecap pun membuatku tak berdaya

Saat tak ada penawar yang mampu mengobati

Racun itu telah menguasai semua rasa

Sampai kelu dan kaku badan terasa

Racun itu telah merajai hingga otak dan merusak daya pikirku

Saat aku mabuk akan racun itu, hanya kata – kata manis yang terlontar

Tak ada yang logis saat semua kalimat yang terucap saat itu

Satupun orang tak ada yang bilang racun ini membuatku bahagia

Karena nyatanya, setiap racun yang ada hanyalah sebuah mara bahaya

Aku merintih saat dia kembali meracuni

Tenggorokan mulai terasa nyeri

Saat aku tercekik kala racun itu mengalir pada setiap arus urat nadi

Saat aku hampir mati

Racun itu tetap saja tak punya hati membuat prasangka hati

Waktupun tak bisa datang untuk mengendali

Aku tak menyadari sadar saat racun itu membungkus tubuhku

Racun itu telah berhasil mengakhiri hidup indahku.

MERINDING ‘ T P S ‘

Posted by orange lover! , 2009/04/13 20.02


Pemilu itu kepanjangan dari pemilihan umum. Para wakil rakyat dipilih oleh umum atau warga negara itu sendiri agar wakil rakyat yang dipilih itu adalah orang yang sesuai oleh keinginan rakyat untuk memajukan bangsa dan memakmurkan rakyatnya.. Itulah arti pemilu menurut saya yang belakangan ini ingin mencoba memahami arti pemilu. Pllookkk... plokk.... Sok sok an banget dah ah saya ngomongin soal pemilu. Padahal saya lihat TPS aja udah takut. Hahaha....


Ya, pemilu tahun ini adalah pemilu pertama yang saya ikuti. Yah, ketahun deh kalau umur saya udah nggak 13 tahun lagi. Nggak apa – apa lah. Umur 19 kan adalah usia waktu lagi lucu – lucu nya. Pemilu yang saya ikuti tanggal 9 April lalu menjadi moment dimana saya benar – benar merasa sebagai warga negara Indonesia yang baik, ramah dan tidak sombong. Menggunakan hak suara dan ikut menentukan nasib bangsa adalah hal yang begitu memukau bagi saya. Salah milih bahaya banget. Tapi itu enggak merubah pendirian saya untuk tetap ikut pemilu. Tapi, yang saya takutkan adalah pada saat memasuki T P S ( Tempat Pemungutan Suara ) nya.


Sekitar pukul 11 pagi, sehabis menunggu Ibu memasak makan siang dulu di rumah, saya dan Ibu menuju TPS 72 di dekat rumah. Hanya 2 menit dari rumah. TPS itu berada di sebuah lapangan. Sebelum memasuki TPS, Ibu saya mengobrol sebentar dengan Ibu – ibu lainnya. Lalu, dengan menggandeng saya, dia mengajak saya masuk ke TPS. Tapi, saya menarik tangannya.


“ Bu, pulang aja, yuk!” ajak saya

“ Pulang? Ngapain? Yang nggak – nggak aja deh, Ka!” jawabnya agak sedikit kesal.

“ Aku deg – degan nih. Takut.” Saya agak merengek.

“ Yaelah, udah kayak mau di suntik aja deh!” Lalu wanita separuh baya itu dengan kuat menarik tangan saya lagi dan akhirnya kami berada di dalam TPS. Yang saya pikirkan waktu itu adalah saya belum tahu mana yang harus saya pilih dan hal – hal buruk lain yang saya takut akan terjadi nanti.


Saya mendaftarkan diri. Lalu duduk menunggu nama saya dipanggil sama panitia KPPS (kalo nggak salah namanya). Saya hanya diam membisu sambil merasakan degupan jantung yang dari tadi belum bisa tenang. Seorang pria berbaju hitam yang saya sebut teman itu ,yang saya kenal di karang taruna, ( padahal saya nggak tau namanya cuma wajahnya aja yang inget. Lagipula jarang ketemu. Maaf ya, teman!) baru saja datang dan duduk disamping saya.


“ Udh nyontreng, Yun?” ( dia memanggil saya Yunika)

“ Belum.”

“ Tadinya gue mau golput tapi nggak jadi”

“ Kenapa?”

“ Sayang aja kalo nggak milih.”

“ Oh. Tadinya gue juga mau golput. Tapi akhirnya gue nggak mau lagi”

“ Loh kenapa? Bagus lah.”

“ Ya.. memang bagus. Golren lebih bagus daripada golput.”

Wajah teman saya itu terlihat sangat bingung dan terlihat berpikir sebentar. “ Golren apa tuh, Yun?”

“ Elo mau ikut nggak? Golren itu singkatannya Golongan Oren. Orangers. Gue suka warna orange.”

“ Hah. Dasar.... Dasar! Anaknya siapa sih lo, Yun?” Dia geleng – geleng kepala.


Saya hanya menahan ketawa melihat ekspresinya. Nama saya dipanggil lalu menuju ke tempat penyontrengan. Wallaahh... besar sekali surat suara nya. Bingung bener nih milih calegnya. Ibu saya yang sudah selesai mencontreng memperhatikan saya dari luar T P S. Mommy, help me!


Thanks God! Acara pencontrengan sudah selesai dan saya langsung memasukkan kertas suara ke kotak besar lalu keluar T P S.


“ Mbak.. mbak.. celupin dulu jarinya.” Panggil salah satu panitianya.

Arrgghh.. tinta! “ Kalau nggak, boleh nggak? Nanti saya pakai di rumah aja deh!”

“ Wah.. nggak boleh mbak! Mana sini jarinya.”

Duh, mas, saya takut sama tinta. “ Nggak usah deh, biar saya aja yang celupin!”

Oww.. my God.. kena tinta lagi... Buru – buru saya kabur dari tempat itu. Siap – siap deh pemilu berikutnya. Phiuuffhh...