DARI INDONESIA KE JEPANG

Posted by orange lover! , 2009/05/13 19.55




Tanggal 19 April 2009 lalu, bersama Ibu dan Adik, saya pergi ke JCC Senayan untuk melihat pameran batik. Saya mengunjungi pameran batik itu karena mau bertemu tante saya yang membuka stand batik disana. Bisa lima tahun sekali ketemu dengan beliau. Kita tinggal di beda kota. Saya tinggal di Bekasi, dia tinggal di Jogja. Dari seminggu sebelumnya, saya sudah berencana untuk membeli batik. Pengen banget punya batik yang kalau dipakai tuh keren, remaja banget, bukannya malah mengundang orang yang melihat penampilan kita kontan bertanya, “ Mau kondangan dimana, Mbak? “ Itu sangat menyebal kan buat saya.


Tadinya, saya mau mengendarai motor matic ke Senayan tapi Ayah melarangnya. Dia hanya bilang kalau Senayan itu terlalu jauh untuk saya tempuh dengan mengendarai motor. Itu nggak masuk akal. Kenapa waktu itu saya boleh ke Depok tapi ke Senayan malah dilarang? Benar – benar tidak manusiawi.


Awal rencana kami mau naik busway dari UKI dengan menumpang bis 9b dari Bekasi. Ketika sampai UKI, Ibu saya punya pikiran lain, kami naik P6 jurusan Kp. Rambutan – Grogol lalu turun tepat di JCC. Kami menyusuri jalan menuju tempat JCC tersebut tepatnya di Hall A. Sempat nanya – nanya juga sih kepada orang – orang. Waktu itu nanya tukang jual air mineral dimana jalan masuknya, dia menjawab, “ JCC tinggal lurus aja, bu! Kalau haus beli disini airnya.”


Akhirnya, kami menemukan JCC Balai Sidang Jakarta tempat dimana pameran batik itu di selenggarakan. Setelah membayar tiket, kami memasuki ruang pameran. Wow, batik semua. Hehehe... ( yaiyalah.. kan memang kamu sedang berada dipameran batik, ika nan cantik! Hhahah... ) Saya melihat baju batik yang mencuri perhatian semua orang. Indah sekali. Saya nggak pernah melihat baju – baju rancangan para designer dalam merancang kain batik menjadi sebuah gaun yang menakjubkan. They are amazing. Bagian depan nya saja sudah eye-catchy gini apalagi bagian dalamnya ya...


Ketika sampai di pameran batik, tampak keadaan agak remang – remang. Hanya stand nya saja yang sengaja dibuat terang. Banyak ibu dan bapak sedang melihat – lihat batik yang dijual atau hanya di pajang saja. Saya mencari stand tante saya yang katanya di blok nomor 71. Seiring saya berjalan menuju stand tante, batik – batik manis nan etnik menggugah mata saya. Indah banget. Ngiler boo..!!


“ Ehh.. Ika kapan nyampe?” ujar tante Rini saat saya menemukan stand batiknya. Saya langsung memilih – milih batik yang dipajang di depang stand. Lucu – lucu banget model sack dress nya. “ Bagus tuh, Ka!” lanjut tante saat menemukan saya memilah – milah batik. Saya hanya tersenyum lalu menghampiri Ibu saya.


“ Bu, aku boleh nggak beli batik itu?” tanya saya sambil menunjuk batik yang saya idamkan. Ibu mengambil baju itu lalu melihat harganya. Rp 428.000. Wow... Nafsu saya hilang seketika. Saya menggerutu karena harganya yang menjulang. “ Tante, batik nya mahal banget sih? “ protes saya sambil mengembalikan batik itu ke tangan penjualnya.


“ Ika nggak kenal batik sih. Lihat deh gambarnya. Ini batik tulis!” jawabnya.

Saya hanya manyun ke baju tersebut. Gagal deh beli batik. Saya merasa berat hati membeli batik seharga gaji saya sebulan. Damn! Kalian sudah tahu belum? menurut penjelasan tante saya yang berambut pendek itu, cara membedakan batik tulis dengan batik cetak itu dari gambarnya. Kalo batik tulis itu gambar goresan batiknya itu nggak lurus, pasti acak – acakkan, sebaliknya batik cetak itu pasti bagus dan rapih. Hmm.. saya sekarang tahu. Berarti selama ini, saya selalu beli batik cetakan ya? Hehehe...


“ Udah lah Ka. Nanti kita beli di tanah abang aja!” usul Ibu.

“ aku mau dong mbak diajakin ke tanah abang.” Pinta tante ku itu.

“ Ya nanti kapan – kapan kalau kamu ke Jakarta nya lama.” Ujar Ibu.


Selain pameran batik, ternyata ada talk show tentang batik Sumatera. Panggung talk show itu tepat di belakang stand tante Rini. Saya menuju ke tempat acara bincang – bincang itu. Saat melihat presenter nya, saya merasa mengenalnya. Dia sering tampil di TV membawakan acara talk show. Andy F Noya. Kenal nggak? Punya TV nggak di rumah? Hahaha....


Saya kaget setengah mati saat yang memperkenalkan dan menjelaskan tentang batik itu adalah orang bule. Tepatnya orang Belanda. Orang asing yang memakai kemeja batik itu menjelaskan seluk beluk batik Sumatera dengan aksen Belanda yang dicampur bahasa Indonesia. Lucu banget. Tapi, ketika saya melihat sekeliling, sungguh ironis ketika orang asing menjelaskan tentang batik dan meneliti perkembangannya, orang Indonesia sendiri yang memiliki salah satu hasil budaya tersebut hanya menonton dan mendengarkan. Dunia telah terbalik, kawan – kawan! Itu sangat memalukan bagi saya.


“ Bu, lihat – lihat lagi yuk! “ ajak saya lalu meraih tangan adik saya agar ikut bersama kami. Tenunan – tenunan kain yang mengagumkan terlihat sangat menyegarkan mata. Saya mengamati setiap rajutan – rajutan yang terdapat pada kain. Sok banget ya, kayak saya ngerti aja!. Saya menulusuri instalasi – intalasi pameran sampai keujung lorong dan menemukan pintu lain dan ruangan yang lebih terang karena terdapat kaca – kaca besar yang mempersilahkan matahari masuk ke dalam ruangan. Ketika saya meginjakkan kaki ke ruangan ber- AC itu, saya kaget setengah mati. Saya celingak – celinguk mencari sesuatu yang saya kira berbeda dan aneh. Dimana saya? Saya melihat orang – orang disini bermata sipit semua. Ada sekelompok remaja yang berpakaian aneh, ribet dan berlebihan. Terdapat panggung yang dihiasi bunga sakura. Lalu saya mendengar informasi dari pengeras suara ‘ BAGI PESERTA COSPLAY YANG INGIN DI FOTO, SILAHKAN KE TEMPAT FOTO. GRATIS! ‘ Oohh... ini tempat cosplay toh. Pantas saja tadi saya melihat ada Naruto disini. Hehehe... Banyak orang yang mau mengambil gambar bersama para peserta cosplay. Begitu pun saya. Melihat seorang peserta yang lagi nganggur, saya ajak aja photo. Tapi saya nggak tau di itu pake costum apa. Cuma bawa pistol, tank top, celana panjang, dan memakai wig pirang.


“ Itu siapa, Ka? “ tanya Ibu saat selesai mengambil gambar saya dan cewek peserta cosplay tersebut.

“ Nggak tau! Hehe.. “

“ Ngapain foto sama dia? Putih banget tuh kulitnya. Pemain sinetron ya Ka?”

“ Pemain sinetron? Semua yang disini itu karakter animasi jepang, Bu! Mana ada pemain sinetron. Malahan kalau ada pemain sinetron, nggak ada yang minta photo!” jawab saya asal.


Sampai sekarang pun saya nggak tau dia siapa. Hal – hal yang berbau Jepang bukan salah satu konsentrasi saya. Mungkin kalau kemarin ada yang pakai kostum Shakespeare saya pasti kenal, lalu saya ajak ngobrol, bertukar pikiran dan saya ajak dia ke rumah saya. Loh.. loh..? Saya merasa asing sekali di lomba kostum itu. Buta sama sekali sama karakter komik karena saya jarang baca komik. Lebih baik saya kembali ke Indonesia dan lebih memperhatikan batik. Saya sebel banget kalau pergi ajak adik saya, kalau kelamaan, pasti dia merengek – rengek minta pulang. Nggak nendang banget liat pameran batiknya kan sayang udah bayar tiket. Baru masuk udah keluar lagi. Benci banget! Dia menutupi sebagian background baju – baju batik ,yang saya ingin foto, dengan telapak tangannya.


Akhirnya saya pulang setelah berpamitan dengan tante dan menuju standnya lagi. Setelah itu melewati acara talk show yang belum kelar itu. Tapi tunggu, ada seseorag yang mencuri mata saya. Oscar Lawalata. Wow... ! Pengen foto sama dia.. Keren banget dan sungguh cantik. Tapi dia keburu pergi. Huffpp.. Nyesel banget. Ternyata dia punya stand juga di pameran batik ini. Karena adik saya yang terus menerus merengek minta pulang, akhirnya, saya tinggalkan semua keinginan saya untuk mengabdikan gambar bersamanya. Saat pulang, rasa penyesalan saya dibayar dengan rasa bahagia karena saya naik bis china yang selama ini saya dambakan untuk menaikinya. Yeashh...!!!

AKU MATI KERACUNAN

Posted by orange lover! 19.20

Racun itu telah mengintaiku
Rasa pahit itu melemaskanku
Rasa manis yang terkecap pun membuatku tak berdaya

Saat tak ada penawar yang mampu mengobati

Racun itu telah menguasai semua rasa

Sampai kelu dan kaku badan terasa

Racun itu telah merajai hingga otak dan merusak daya pikirku

Saat aku mabuk akan racun itu, hanya kata – kata manis yang terlontar

Tak ada yang logis saat semua kalimat yang terucap saat itu

Satupun orang tak ada yang bilang racun ini membuatku bahagia

Karena nyatanya, setiap racun yang ada hanyalah sebuah mara bahaya

Aku merintih saat dia kembali meracuni

Tenggorokan mulai terasa nyeri

Saat aku tercekik kala racun itu mengalir pada setiap arus urat nadi

Saat aku hampir mati

Racun itu tetap saja tak punya hati membuat prasangka hati

Waktupun tak bisa datang untuk mengendali

Aku tak menyadari sadar saat racun itu membungkus tubuhku

Racun itu telah berhasil mengakhiri hidup indahku.

MERINDING ‘ T P S ‘

Posted by orange lover! , 2009/04/13 20.02


Pemilu itu kepanjangan dari pemilihan umum. Para wakil rakyat dipilih oleh umum atau warga negara itu sendiri agar wakil rakyat yang dipilih itu adalah orang yang sesuai oleh keinginan rakyat untuk memajukan bangsa dan memakmurkan rakyatnya.. Itulah arti pemilu menurut saya yang belakangan ini ingin mencoba memahami arti pemilu. Pllookkk... plokk.... Sok sok an banget dah ah saya ngomongin soal pemilu. Padahal saya lihat TPS aja udah takut. Hahaha....


Ya, pemilu tahun ini adalah pemilu pertama yang saya ikuti. Yah, ketahun deh kalau umur saya udah nggak 13 tahun lagi. Nggak apa – apa lah. Umur 19 kan adalah usia waktu lagi lucu – lucu nya. Pemilu yang saya ikuti tanggal 9 April lalu menjadi moment dimana saya benar – benar merasa sebagai warga negara Indonesia yang baik, ramah dan tidak sombong. Menggunakan hak suara dan ikut menentukan nasib bangsa adalah hal yang begitu memukau bagi saya. Salah milih bahaya banget. Tapi itu enggak merubah pendirian saya untuk tetap ikut pemilu. Tapi, yang saya takutkan adalah pada saat memasuki T P S ( Tempat Pemungutan Suara ) nya.


Sekitar pukul 11 pagi, sehabis menunggu Ibu memasak makan siang dulu di rumah, saya dan Ibu menuju TPS 72 di dekat rumah. Hanya 2 menit dari rumah. TPS itu berada di sebuah lapangan. Sebelum memasuki TPS, Ibu saya mengobrol sebentar dengan Ibu – ibu lainnya. Lalu, dengan menggandeng saya, dia mengajak saya masuk ke TPS. Tapi, saya menarik tangannya.


“ Bu, pulang aja, yuk!” ajak saya

“ Pulang? Ngapain? Yang nggak – nggak aja deh, Ka!” jawabnya agak sedikit kesal.

“ Aku deg – degan nih. Takut.” Saya agak merengek.

“ Yaelah, udah kayak mau di suntik aja deh!” Lalu wanita separuh baya itu dengan kuat menarik tangan saya lagi dan akhirnya kami berada di dalam TPS. Yang saya pikirkan waktu itu adalah saya belum tahu mana yang harus saya pilih dan hal – hal buruk lain yang saya takut akan terjadi nanti.


Saya mendaftarkan diri. Lalu duduk menunggu nama saya dipanggil sama panitia KPPS (kalo nggak salah namanya). Saya hanya diam membisu sambil merasakan degupan jantung yang dari tadi belum bisa tenang. Seorang pria berbaju hitam yang saya sebut teman itu ,yang saya kenal di karang taruna, ( padahal saya nggak tau namanya cuma wajahnya aja yang inget. Lagipula jarang ketemu. Maaf ya, teman!) baru saja datang dan duduk disamping saya.


“ Udh nyontreng, Yun?” ( dia memanggil saya Yunika)

“ Belum.”

“ Tadinya gue mau golput tapi nggak jadi”

“ Kenapa?”

“ Sayang aja kalo nggak milih.”

“ Oh. Tadinya gue juga mau golput. Tapi akhirnya gue nggak mau lagi”

“ Loh kenapa? Bagus lah.”

“ Ya.. memang bagus. Golren lebih bagus daripada golput.”

Wajah teman saya itu terlihat sangat bingung dan terlihat berpikir sebentar. “ Golren apa tuh, Yun?”

“ Elo mau ikut nggak? Golren itu singkatannya Golongan Oren. Orangers. Gue suka warna orange.”

“ Hah. Dasar.... Dasar! Anaknya siapa sih lo, Yun?” Dia geleng – geleng kepala.


Saya hanya menahan ketawa melihat ekspresinya. Nama saya dipanggil lalu menuju ke tempat penyontrengan. Wallaahh... besar sekali surat suara nya. Bingung bener nih milih calegnya. Ibu saya yang sudah selesai mencontreng memperhatikan saya dari luar T P S. Mommy, help me!


Thanks God! Acara pencontrengan sudah selesai dan saya langsung memasukkan kertas suara ke kotak besar lalu keluar T P S.


“ Mbak.. mbak.. celupin dulu jarinya.” Panggil salah satu panitianya.

Arrgghh.. tinta! “ Kalau nggak, boleh nggak? Nanti saya pakai di rumah aja deh!”

“ Wah.. nggak boleh mbak! Mana sini jarinya.”

Duh, mas, saya takut sama tinta. “ Nggak usah deh, biar saya aja yang celupin!”

Oww.. my God.. kena tinta lagi... Buru – buru saya kabur dari tempat itu. Siap – siap deh pemilu berikutnya. Phiuuffhh...